Jendela Hati

bi. ang. la. la. yang tertunda ataukah pe. la. ngi.  yang tak mampu kita rasa ...

Seorang sahabat pernah begitu patah hati, dia sering menangis dan merasa tak berharga, kakak lelakinya selalu mengutuk segala kerenah yang tampak di pelupuk mata, sehingga penolakan demi penolakan menjadi biasa dalam perasaan yang tak biasa, kesedihan itu terasa mendarah daging baginya, karena dia harus berjuang sendiri pada prasangkanya terhadap definisi penyakit hati sang kakak.

Suatu hari sang kakak yang berwatak keras dan kasar  berencana melakukan perjalanan yang sangat jauh, dan bermaksud mencairkan aset milik mereka bersama, setelah melakukan proses diskusi yang panjang, mereka sepakat untuk menjual dan membagi hasilnya sesuai dengan perjanjian yang telah dilakukan.

Hari berlalu, sang kakak tak kunjung memberi kabar baik, pengharapan pada perubahan finansial dan hubungan adik kakak ke arah yang lebih cemerlang perlahan mulai pudar berganti dengan kecemasan, kesedihan, perasaan dikhianati yang bertambah tambah parahnya. Sambil memainkan setumpuk benzodiazepines di setengah genggamannya, sang adik mulai liar dengan pikiran pendek, apakah akan mengakhiri rasa putus asa ini saja, karena menganggap sang kakak adalah neraka didunianya ? atau membuka jendela hati yang selama ini berlumut…

Percuma merengek putus asa meminta penjelasan pada hubungan yang tidak berjalan baik ini, untuk apa pula segenap rasa sesal. kebutuhan  emosi yang sebenarnya adalah pada kerendahan hati yang mau menerima segala keadaan pada titik keikhlasan. sehingga segala hikmah  dapat membentuk jiwa-jiwa yang tangguh, tidak mudah berkecil hati, memandang takjub dalam pengertian yg sederhana untuk diri sendiri.

Tirai telah dibuka, sekat-sekat telah dibersihkan tanpa noda tanpa cela, sang adik tidak lagi berfokus mengasihani diri sendiri, harinya selalu diisi dengan rasa syukur pada apa yang ia miliki, bukan pada ketiadaan, seluruh energi dicurahkan untuk berterimakasih kepada sang maha pencipta. memang dibutuhkan puluhan tahun baginya untuk menyadari kehebatan dari membuka jendela hati, komitmen berdamai dan mengoreksi diri, serta berpusat pada segala sesuatu yang positif, berkreasi, bersosialisasi dan berinvestasi pada hal-hal yang berarti.

 

Take time to THINK. It is the source of power.

Take time to READ. It is foundation of wisdom.

Take time to QUIET. It is the opportunity to seek God.

Take time to DREAM. It is the future made of.

Take time to PRAY. It is the greatest power on earth.

-Author Unknown-

 

“…Sesungguh Allah tidak akan mengubah nasib satu kaum kecuali mereka sendiri mengubah keadaan jiwanya…”

-QS Ar Ra’d 13:11-

3 pemikiran pada “Jendela Hati”

  1. Masyaallah…selalu ditunggu2 kata kata motivasinya, yang tersirat di dalamnya…ditunggu blog2 selanjutnya ❤

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Mehrunnisa Batalkan balasan